Artikel


MENINGKATKAN EFEKTIFITAS PEMBELAJARAN BIOLOGI DENGAN MENGGUNAKAN MODEL PBL (PROBLEM BASE LEARNING) PADA MATERI PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN MAKHLUK HIDUP DI KELAS XII MIPA SMAN 1 BUNGURSARI

MENINGKATKAN EFEKTIFITAS PEMBELAJARAN BIOLOGI DENGAN MENGGUNAKAN MODEL PBL (PROBLEM BASE LEARNING) PADA MATERI PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN MAKHLUK HIDUP DI KELAS XII MIPA SMAN 1 BUNGURSARI

481 21 Jun 2021

<p class="MsoNormal" align="center" style="text-align:center"><b><span lang="EN-US"><font size="2" face="times new roman">ABSTRAK<i><o:p></o:p></i></font></span></b></p> <p class="MsoNormal" style="text-align:justify"><font size="2" face="times new roman"><span lang="EN-US" style="">Pembelajaran merupakan usaha sadar dan terencana yang terjadi antar guru dengan siswa agar keberhasilan proses pembelajaran dapat tercapai. Pembelajaran yang kurang menyenangkan dan monoton menjadi salah satu faktor kesulitan siswa, karena tidak adanya pembelajaran yang bermakna dan tidak ada peran aktif bagi siswa. Penyebab kesulitan belajar tersebut umumnya terjadi karena faktor internal seperti kemampuan intelegensi siwa dalam memecahkan topik masalah yang diberikan guru dan faktor eksternal yang meliputi penggunaan model dan media pembelajaran guru. Berdasarkan permasalahan tersebut dilakukan penetian ini bertujuan untuk meningkatkan efektifitas pembelajaran biologi dengan menggunakan model PBL pada materi pertumbuhan dan perkembangan makhluk hidup. Penelitian ini menggunakan pendekatan </span><span lang="IN" style="">deskriptif </span><span lang="EN-US" style="">kualitatif dengan jenis penelitian tindakan kelas</span><span lang="IN" style="">/PTK</span><span lang="EN-US" style=""> (<i>Clasroom</i></span><i><span lang="EN-US" style=""> </span></i><i><span lang="EN-US" style="">Action Research</span></i><span lang="EN-US" style="">) meliputi tahap<i> </i>perencanaan, tindakan,</span><span lang="EN-US" style=""> </span><span lang="EN-US" style="">observasi, dan refleksi.</span><span lang="EN-US" style=""> </span><span lang="EN-US" style="">Subjek penelitian ini adalah siswa kelas di kelas XII MIPA SMAN 1 Bungursari berjumlah 34 </span><span lang="IN" style="">siswa</span><span lang="EN-US" style="">.</span><span lang="EN-US" style=""> </span><span lang="EN-US" style="">Data yang dihimpun meliputi penilian<i> pretest </i>dan<i> postest</i>. H</span><span lang="IN" style="">asil penelitan </span><span lang="EN-US" style="">menunjukkan</span><span lang="IN" style=""> peningktan rata-rata nilai hasil belajar dari nilai </span><span lang="IN" style="">82,7</span><span lang="IN" style=""> </span><span lang="EN-US" style="">di</span><span lang="IN" style="">penilaian <i>pretest</i> menjadi </span><span lang="IN" style="">88,4 </span><span lang="EN-US" style="">di</span><span lang="IN" style="">penilaian <i>postest</i>. Hasil ini sesuai dengan nilai <i>N-gain score</i> sebesar 0,33 dengan kategori sedang, ini membuktikan bahwa ketuntasan hasil belajar </span><span lang="EN-US" style="">siswa setelah proses pembelajaran mencapai</span><span lang="IN" style=""> 100%</span><span lang="EN-US" style="">.</span><span lang="EN-US" style=""> </span><span lang="EN-US" style="">Hal ini</span><span lang="EN-US" style=""> </span><span lang="EN-US" style="">menunjukkan</span><span lang="IN" style=""> pembelajaran menggunakan model pembelajaran </span><span lang="EN-US" style="">PBL</span><span lang="IN" style=""> sangat efektif meningkatk</span><span lang="EN-US" style="">an hasil belajar kognitif siswa.</span></font></p><p class="MsoNormal" style="text-align: center; margin: 4.55pt 4.1pt 0.0001pt 0cm; line-height: 12.6pt;"><font face="times new roman" size="2"><b><span lang="EN-US">PENDAHULUAN</span></b><i><span lang="EN-US"><o:p></o:p></span></i></font></p><p class="MsoNormal" style="text-align:justify"><span lang="EN-US" style=""><font face="times new roman" size="2"> </font></span></p><p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36.0pt"><span lang="EN-US"><font face="times new roman" size="2">Pembelajaran adalah sebuah interaksi komunikasi yang terjadi antara guru dengan siswa yang mana keberhasilan siswa tersebut mengacu kepada cara guru mengelola pembelajaran (Putri <i>et al</i>., 2016). Pembelajaran merupakan usaha sadar dan terencana yang terjadi antar elemen pendidikan untuk memperoleh ilmu pengetahuan (Ristanto <i>et al</i>., 2018). Interaksi dalam pembelajaran mampu mengubah perilaku atau tingkah laku maupun cara berfikir siswa dalam membentuk perubahan pengetahuan sebagai pencapaian hasil belajar (Astuti <i>et al.,</i> 2019). Pada hakikatnya pembelajaran pada saat ini berjalan hanya satu arah, sedangkan guru hanya sebagai fasilitator atau memberikan arahan kepada siswa sehingga siswa dituntut berperan aktif, mengaitkan konsep-konsep serta berfikir kritis memecahkan masalah pada saat pembelajaran berlangsung (Fauzi &amp; Fariantika, 2018).&nbsp;</font></span></p><p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36.0pt"><span style="font-family: &quot;times new roman&quot;; font-size: small; text-indent: 36pt;">Pembelajaran yang kurang menyenangkan dan monoton, sehingga tidak menarik bagi siswa menjadi salah satu faktor terhadap rendahnya hasil belajar dalam ranah kognitif karena dalam proses pembelajaran siswa tidak berperan secara aktif, pembelajaran sering dilakukan satu arah, dan lebih berpusat pada guru (Mulyono </span><i style="font-family: &quot;times new roman&quot;; font-size: small; text-indent: 36pt;">et al</i><span style="font-family: &quot;times new roman&quot;; font-size: small; text-indent: 36pt;">., 2017). Penyebab kesulitan belajar siswa bisa dikategorikan karena faktor internal dan eksternal. Jika dibandingkan antara kedua faktor tersebut menunjukkan hasil bahwa faktor internal lebih mendominasi dalam menyebabkan kesulitan belajar siswa sebanyak 79,34 %, adalah kemampuan intelegensi siwa dalam memecahkan soal yang diberikan guru serta faktor eksternal yang meliputi penggunaan model dan media pembelajaran guru (Widiastuti, 2020).&nbsp;</span></p><p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36.0pt"><span style="font-family: &quot;times new roman&quot;; font-size: small; text-indent: 36pt;"><a href="http://drive.google.com/file/d/1hCmtsjv0oa9sIw3kofHdXwsBgtziD_fN/view?usp=sharing" title="" target="_blank">selengkapnya....</a></span></p>

Selengkapnya
Seorang Guru Seribu Muka Seribu Jiwa (Rany Anggraeni, S.S)

Seorang Guru Seribu Muka Seribu Jiwa (Rany Anggraeni, S.S)

Guru adalah sebuah profesi yang mampu mencerdaskan kehidupan generasi muda. Guru ibarat sebuah tonggak, harus tetap berdiri kokoh walau banyak halangan dan rintangan. Saya dan teman-teman mengajar di sekolah menengah atas yang terletak di sebuah kota kecil dan berada di lokasi petengahan yang artinya setengah kota dan setengah desa. Otomatis zonasi sekolah menentukan karakter dari setiap peserta didik. Halangan dan rintangan selalu kita hadapi tanpa harus banyak mengeluh. Pemikirang kami sama hidup itu kadang di atas kadang di bawah, matahari tak selamanya bersinar kadang siang kadang malam. Hal tersebut menjadi tekad kuat bagi seorang guru agar semua yang kita harapkan berjalan tegak lurus.


Seorang guru A datang ke sekolah dengan tergesa-gesa dan telat, guru lain mencibir "Wah dasar guru telat". Seorang guru B datang dengan pamer punya A dan punya B, "Wah dasar sombong". Seorang guru A datang dengan tekad kuat, saya gak oleh makan gaji buta, guru lain berkata "Wah dasar pencitran". Seorang guru datang sebagai orang alim dan tahu segalanya, guru lain berkata "Wah dasar egois". Seorang guru muda datang dengan banyak prestasi, guru lain berkata "Wah biasa aja", saya yang paling berpengalaman. Seorang guru datang dengan banyak mengeluh "Gaji saya habis dipotong Bank", guru lain menjawab "Saya bersyukur dengan gaji kecil tapi bisa hidup berkecukupan". Atasan datang dengan surat perintah, kerjakan ini itu hari ini selesai, kumpulkan ini dan itu hari ini selesai, guru-guru menjawab banyak sekali pekerjaan, gimana ini.  Itulah segala permasalahan yang datang silih berganti antara kami, tapi semua hal tersebut ibarat uang recehan yang kita anggap sepele. Karena masalah terbesar yang kita hadapi adalah generasi muda yang harus kita didik dan kita bina sampai mereka kelak memiliki masa depan berprestasi dan membanggakan.


Guru dengan sejuta pesona dan sejuta peran harus dapat menghadapi ratusan karakter siswa yang berbeda. Latar belakang peserta didik yang berbeda-beda menguatkan kita untuk mampu berperan dengan baik. Guru tak boleh memandang siswa, dia anak pintar dan dia anak bodoh, tapi kami harus bisa merangkul semua dan mencari kelebihan setiap siswa. Pintar matematika belum tentu pintar bahasa. Pintar berbicara namun lemah dipengetahuan. Pintar kognitif namun lemah keterampilan. Kenyataan tersebut membuat seorang guru harus pintar dalam memberikan nilai dan bonus point. Sebenarnya nilai kasih sayang menjadi peran utama, ketuntasan minimal mewajibkan kasih sayang berperan. Rapot hanyalah sebagai identitas tapi didalamnya terkandung rasa, asa dan harapan dari seorang guru agar kelak mereka bisa menggunakan nilai yang didapat untuk bekal masa depan. 


Masa pandemi covid-19 seperti ini kita harus bisa menguatkan jiwa raga dan akal agar bisa mengkondisikan dengan baik dan mampu sejajar dengan tuntutan jaman. Pembelajaran daring menuntut kita untuk mampu menguasai tekhnologi dan belajar memanfaatkan tekhnologi. Solusinya adalah sesama guru membentuk tim belajar agar tekhnologi pembelajaran daring bisa kita kuasai, dengan begitu kita lupakan cicilan, lupakan tomat dan bawang di dapur dan fokus pada peran penguasaan tekhnologi. Siswa harus bisa terlayani walau tanpa tatap muka. Jauh di mata dekat di hati, itulah semboyan pembelajaran daring, tak terlihat namun si Ilmu tetap menjadi keributan, mereka bergerak dua arah dan komunikasi berlalu lalang setiap hari.


Peran guru tak hanya sampai di sini. Tantangan masa depan yang semakin maju dan berkembang menuntut kita untuk terus aktif dan mampu berperan dengan baik. Walau sulit tetap harus tersenyum. Walau beberapa bibir manis berkata "Guru makan gaji buta, kagak kerja tapi dapet gaji". Pedasnya cibiran nitizen tak mampu mengalahkan aturan dan pasal-pasal yang mewajibkan kita terus berkembang menjadi guru professional, guru harus mampu menghadapi segala tuntutan. Tumpukan pekerjaan yang selalu singgah dipundak harus bisa cepat terselesaikan. 

Selengkapnya
Menerapkan Disiplin di Sekolah

Menerapkan Disiplin di Sekolah

Disiplin merupakan suatu kegiatan yang dilakukan agar tidak melanggar peraturan yang berlaku demi terciptanya suatu tujuan. Disiplin tidak hanya dilakukan di rumah tapi disiplin juga bisa dilakukan di sekolah. Dengan adanya disiplin di sekolah murid-murid akan melakukan segala sesuatu dengan tertib dan teratur sehingga tercapainya impian dan tujuan dalam hidup.

Kegiatan sekolah merupakan salah satu bentuk dari disiplin seperti guru maupun murid berperilaku sopan santun, bahasa yang baik dan benar. Dan murid menerima teguran atau hukuman yang adil. Serta guru dan murid bekerjasama dalam membangun, memelihara dan memperbaiki aturan-aturan dan norma-norma.

Selengkapnya
Ada Rahasia di Balik Kebiasaan Membaca

Ada Rahasia di Balik Kebiasaan Membaca

Ini adalah contoh artikel.
Membaca tak hanya menjadi cara untuk menambah pengetahuan. Ada sejumlah rahasia di balik kebiasaan ini. Sejumlah tokoh dunia dikenal punya kegemaran rutin membaca, bahkan di setiap pagi sembari meminum kopi. Presiden Amerika Serikat, Barrack Obama, adalah salah satu tokoh yang setiap pagi rutin membaca media massa utama. Pendahulu Obama, Bill Clinton, juga diketahui suka membaca novel. Karya Ralph Ellison masuk daftar bacaan favoritnya.

Selengkapnya

FILM PENDEK "MISI RAHASIA"


Kontak


Alamat :

Jl. Raya Bungursari Blk. 122

Telepon :

0264350667

Email :

info@sman1bungursari.sch.id

Website :

sman1bungursari.sch.id

Media Sosial :

Film Pendek "SERAGAM"


"SIMPUL PITA MERAH"


PENGUMUMAN UN


PPDB ONLINE